Mengenai Bunuh Diri

Galih Khumaeni Elbaliem, Alumni SMA IT Miftahul Khoir, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, di berita ramai menceritakan tentang aksi bunuh diri yang dilakukan oleh Chester Bennington, vokalis Linkin Park. Berita mengenai kematiannya ramai memenuhi media karena Chester dianggap sebagai seseorang yang dapat mewakili sebuah generasi, terutama generasi 90-an yang tumbuh besar mendengarkan musik mereka dan harus diakui, album mereka yang berjudul Hybrid Theory dan Meteora memang luar biasa. Selang beberapa waktu, di berita juga ramai mengenai dua orang kakak-beradik yang melakukan bunuh diri dengan cara lompat dari sebuah apartemen . Video mereka ketika melakukan aksi tersebut viral di sosial media. Sebagai sarang warga internet yang budiman, jelas-jelas video itu akan memancing berbagai macam komentar. Mulai dari yang berusaha berempati sampai-sampai komentar seperti “ko ga bersukur sih, padahal sudah dikasih hidup” tau “ga sayang keluarga ya”

Selama ini, dua faktor yang paling menjadi sebab adanya keinginan untuk bunuh diri adalah pada orang yang melakukan bunuh diri adalah depresi dan gangguan mood bipolar. Beberapa kasus lain disebabkan oleh skizoprenia, gangguan kepribadian. Obsessive-Compulsive Disorder, borderline personality disorder dan Post-traumatic stress disorder, bahkan gangguan seperti bulimia dan anorexia. Selain gangguan mental, perilaku bunuh diri juga bisanya dilakukan oleh para penyalahgunaan obat-obatan.

Tapi apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan oleh orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri?

Mereka ingin untuk berhenti “ada” di dunia ini. Keinginan untuk bunuh diri biasanya diiringi dengan perasaan yang campur aduk, Seperti perasaan bahwa dirinya membawa masalah yang sangat-sangat berat dan setiap jalan yang diusahakan untuk menyelesaikan masalah tersebut buntu. Semakin sering menemukan jalan buntu, jalan untuk melakukan bunuh diri semakin terbuka. Bunuh diri semacam jadi satu-satunya pilihan yang tersedia untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sudah tidak ada lagi harapan atau kesempatan untuk menemukan jalan keluar selain bunuh diri.

Perasaan yang lain yang muncul adalah anggapan bahwa dirinya tidak layak untuk tetap hidup karena “i’m not good enough” dan satu-satunya solusi adalah bunuh diri. Bayangkan, dalam satu hari, berkali-kali di kepala muncul keinginan untuk mati dan berharap bahwa di hari itu dia akan terkena kecelakaan atau musibah.

Barangkali perasaan yang dirasakan adalah kehampaan. Rasanya hidup ini tidak memiliki makna sama sekali dan makin lama kehampaan itu makin berat dan pada akhirnya muncul pikiran “jika saya tidak menemukan alasan untuk hidup, lebih baik saya berhenti saja”.

Keputus-asaan adalah hal yang paling mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri dan pikiran-pikiran untuk melakukan bunuh diri bukanlah hal yang mudah untuk dikendalikan. Dorangan untuk melakukannya bisa saja datang dengan tiba-tiba dan intens sampai-sampai membuat tak bisa berpikir jernih, jika diibaratkan mungkin seperti melihat barang bagus di toko dan kemudian muncul dorongan yang kuat untuk membelinya dan membelinya begitu saja tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Apa yang bisa dilakukan?

Keinginan untuk bunuh diri adalah sesuatu yang samar-samar sehingga sangat sulit diidentifikasi dan bisa saja dialami pada orang-orang yang dianggap baik-baik saja. Dibutuhkan kepedulian dan kepekaan yang lebih untuk mengenalinya. Kemungkinan ada kode-kode halus yang disampaikan bahwa seseorang sedang atau sering memikirkan untuk melakukan bunuh diri. Kode-kode tersebut bisanya berkaitan dengan perasaan depresi atau putus asa.

Jika menemukan seseorang yang ingin melakukan bunuh diri jadilah teman yang baik dan suportif. Biarkan orang tersebut mengetahui bahwa ada yang peduli dan dia tidak sendirian. Jadilah pendengar yang baik dan berempati tanpa menghakimi. Biarkan dia mengeluarkan perasaan negatifnya. Yakinkan bahwa masih ada harapan dan mereka cukup kuat menghadapi apa yang sedang dialami. Dan jangan meremehkan masalah apapun yang sedang dialami. Ucapan seperti “Yang lebih berat hidupnya dari kamu banyak kali”, “Kamu kurang bersyukur deh sama hidup”, “Mungkin kamu kurang deket sama Tuhan” tidak akan membantu karena malah memperkuat perasaan gagal atau tidak berharga yang akan memperkuat keinginan bunuh diri

Hal kecil lain yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menyebarkan konten seperti video dan foto orang yang melakukan bunuh diri. Selain tidak etis, ada yang dinamakan dengan Werther Effect, yaitu sebuah kejadian dimana seseorang terpicu untuk melakukan bunuh diri dengan cara meniru apa yang dilihatnya di media.

Selain itu, ada juga komunitas yang peduli terhadap bunuh diri seperti komunitas into the lightID yang bisa membantu jika ada keinginan untuk bunuh diri atau ada seseorang yang kita kenal yang ingin melakukan bunuh diri.

Keep the hope alive

 

 

medium.com/@41998bcc99df/dba671f925bc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *